"Nakba bukanlah sekedar sejarah masa lalu, ia adalah bencana yang terus hidup."
--Edward Said, Orientalism (1978)
15 Mei bukanlah tanggal yang berlalu begitu saja bagi rakyat Palestina. ia adalah simbol duka, simbol kehilangan, dan perlawanan. Pada setiap tahun, Palestina memperingati tanggal tersebut dengan tragedi al-Nakba--sebuah kata dalam bahasa Arab yang berarti "malapetaka" atau "bencana".
Setelah jatuhnya Kesultanan Utsmaniyah, wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Inggris melalui Mandat Palestina (1920-1948), sesuai keputusan Liga-Liga Bangsa. Pada 1917, Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour yang menyatakan dukungan terhadap pembentukan negara Yahudi di Palestina. Pernyataan ini mengabaikan keberadaan penduduk Palestina yang saat itu mayoritas Arab Muslim dan Kristen. Hal tersebut mengakibatkan tajamnya peningkatan imigran Yahudi yang masuk dan akhirnya memicu pemberontakan pada 1936-1939. Pada 1947, PBB mengesahkan Resolusi 181: rencana pembagian Palestina menjadi menjadi dua negara, untuk Yahudi dan Arab. Setelah pengesahan resolusi tersebut, kekerasan meletus di berbagai kota. Namun, bukan peperangan biasa yang terjadi--melainkan pemebersihan etnis. Pembantaian Deir Yassin (9 April 1948) menjadi simbol kekejaman; 100 warga sipil dibunuh yang akhirnya memicu eksodus besar. Ketika Israel didirikan pada 14 Mei 1948, lebih dari dua pertiga warga Palestina telah terusir. Mereka tidak pernah diizinkan untuk kembali, meskipun Resolusi PBB 194 (11 Desember 1948) menyatakan bahwa mereka diizinkan untuk pulang jika ingin ingin berdamai.
"Nakba merampas rumah, sejarah, dan masa depan kami"
--Ghada Karmi, dokter dan penulis Palestina (in Search of Fatima, 2002)
Menurut Badan PBB, United Nations Relief and Work Agency for Palestine Refugees (UNRWA), lebih dari 700.000 lebih warga Palestina diusir dari tanah mereka selama perang Arab-Israel 1948. Sekitar 530 desa dan kota Palestina dihancurkan dan dikosongkan oleh milisi Zionis. Kini, keturunan para pengungsi tersebut mencapai lebih dari 5,9 juta jiwa yang tersebar di Yordania, Lebanon, Suriah, Gaza, dan Tepi Barat.
Nakba Hari Ini
Dari blokade Gaza, ekspansi pemukiman, hingga pengusiran paksa di Yerussalem Timur--Nakba belum berakhir, Ia hanya berganti bentuk. Amnesty Internasional (2022) menyebut Israel menerapkan apartheid terhadap rakyat Palestina.
Bagi sebagian orang, Nakba mungkin hanya sekedar sejarah lama. Tapi bagi jutaan warga Palestina, itu adalah realitas yang masih hidup dalam setiap kamp pengungsi, dalam setiap keluarga yang menanti pulang, dan dalam perjuangan rakyat Palestina untuk keadilan yang tak kunjung datang. Setiap rumah yang hilang, setiap pohon zaitun yang ditebang, setiap pemukiman yang dibangun merupakan kelanjutan Nakba 1948. Selama keadilan belum ditegakkan, selama hak untuk kembali masih ditolak, Nakba masih belum benar-benar berakhir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar